-
Do you need help?
Tampilkan postingan dengan label Doa dan Dzikir. Tampilkan semua postingan

Bukanlah tidak mungkin jika sangatlah banyak orang orang sukses di seluruh dunia ini lantaran mempunyai hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kenapa? Karena ridha Allah ialah ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.
Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.
Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.....
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.
Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.
Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.....

Adakah doa yang dipanjatkan agar mudah melunasi utang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung, apa saja amalannya?
Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa,
اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak”
[Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu]
(HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani)
Hanya Diarahkan untuk Berdoa
Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa. Karena barangkali ‘Ali dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong. Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala,
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263).
Atau di sini ‘Ali memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. Makna ini dikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”.
Makan yang Haram
Makan makanan yang haram itu tanda seseorang dianggap jelek.
Ibnul Qayyim berkata, “Tidaklah seseorang melakukan keharaman melainkan karena dua sebab: (1) berprasangka buruk pada Allah (suuzhan) karena jika saja ia mentaati Allah, pasti ia akan mentaatinya dengan mengonsumsi yang halal, (2) syahwat lebih dimenangkan dari sikap sabar. Yang pertama tadi tanda lemahnya kurangnya ilmu. Yang kedua, tanda lemahnya kesabaran. Dinukil dari Al Fawaid karya Ibnul Qayyim.
Makanan Haram Berpengaruh pada Terkabulnya Doa, Pilihlah yang Halal
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ.
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)
Ibnu Rajab punya pernyataan yang baik mengenai hadits di atas, “Selama seseorang mengonsumsi makanan halal, maka amalan shalih mudah diterima. Adapun bila makanan tidak halal dikonsumsi, maka sudah barang tentu amalan tersebut tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1: 260).
Hanya Allah yang memberi petunjuk.
Referensi:
Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H.
—
Selesai disusun di malam hari, 15 Muharram 1436 H di Darush Sholihin
Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc
Artikel Rumaysho.Com

Berzikir adalah mengingat dan menyebut Nama Allah SWT. serta mengucapkan kalimat pujian kepada Allah SWT secara berulang-ulang. Tujuan berzikir adalah agar hati menjadi dekat kepada Allah SWT dan tetap kuat dalam keimanan. Berzikir dilakukan setiap saat sekalipun hanya sedikit, diutamakan sebanyak-banyaknya dan terus menerus.
Allah SWT memerintahkan berzikir, antara lain:
1. "Ingatlah (berzikirlah) kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu."
2. "Berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya."
Rasulullah saw mengemukakan beberapa fadilah berzikir, diantaranya:
1. Allah SWT terlah berfirman, "Aku menurut dugaan Hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersama hamba apabila ia mengingat Aku. Jika ia mengingat Aku pada dirinya, niscaya Aku mengingatnya pula pada diri-Ku. Jika ia mengingat Aku dalam satu kelompok, niscaya Aku mengingatnya pada kelompok yang lebih baik daripada kelompok mereka. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari."
2. Orang yang berzikir mendapatkan Rahmat dan ampunan Allah SWT
3. Allah SWT menyebut nama orang yang berzikir kepada para malaikat yang berada di sisi-Nya
4. Orang yang berzikir mendapatkan perlindungan Allah SWT pada hari kiamat
5. Berzikir kepada Allah SWT lebih utama daripada berjihad fisabilillah dan memberikan harta yang banyak terus menerus
6. Orang yang berzikir mendapatkan ketenangan hidup
7. Orang yang berzikir diibaratkan orang yang hidup dengan rohaninya, dan orang yang tidak berzikir diumpamakan orang yang mati.

Sesungguhnya Dzikir ini dapat dilakukan kapan saja, baik pagi, siang, sore maupun malam. Firman Allah SWT."Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ialah orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi." (QS. Ali Imran: 190-191)
Walaupun dzikir bisa dilakukan pada setiap waktu, namun ada waktu-waktu tertentu yang sangat utama untuk berdzikir.
- Pagi hari sebelum terbit matahari, usai shalat subuh dan pada sore hari setelah shalat ashar, sebelum matahari terbenam.
- Setelah matahari tergelincir, usai shalat dzuhur
- Setelah menunaikan shalat-shalat wajib
- Pada waktu sepertiga malam yang terakhir
Sebaiknya dzikir itu dilakukan di tempat-tempat yang bersih, suci, dan tenang seperti di masjid atau mushollah. Meski demikian, dzikir bisa dilakukan di sekolah, di kantor, di tempat wisata. Bahkan ketika menunggu bus di halte atau menunggu kereta di stasiun, menanti pesawat di bandara, dan duduk-duduk di pelabuhan kita bisa berdzikir. Demikian pula sewaktu dalam perjalanan, baik sewaktu berjalan kaki maupun sedang naik kendaraan, kita bisa berdzikir. Kecuali di tempat-tempat najis seperti di kamar mandi, dan kamar kecil kita di larang berdzikir.
Seyogyanya dzikir kita lakukan dalam keadaan bersih dan suci, baik badan (khususnya lisan), pakaian dan tempat. Akan tetapi bagi orang yang berhadas (sedang junub, haid/menstruasi dan nifas - keluar darah setelah melahirkan), menurut ijma ulama, boleh saja berdzikir dengan lisan dan hati. Namun dilarang membaca Al Quran, sebab hukumnya haram.
Apabila kita berdzikir baik itu membaca tahmid, tahlil, tasbih, takbir maupun shalawat akan lebih utama jika menghitungnya dengan ruas-ruas jemari tangan. Sebab, sabda Rasulullah saw. "Hendaklah engkau membaca tasbih, tahlil dan taqdis. Janganlah kamu melalaikannya. Jika kamu lalai, lalilah Tuhan memberi rahmat kepadamu. Dan hitung bacaanmu itu dengan anak-anak jari, karena anak-anak jari itu akan bertanggung jawab tentang perbuatannya." (HR. Ahmad dan Abu Daud). Sedangkan kalau kita menghitungnya pakai tasbih, maka memutar tasbihnya harus dengan tangan kanan. Ibnu Umar ra. mengungkapkan: "Saya melihat Rasulullah menyimpulkan tasbihnya dengan tangan kanan."
Apabila dzikir yang kita lakukan benar-benar diniatkan karena ingin memperoleh ridha Allah SWT, maka akan membawa beberapa faedah bagi kita antara lain:
- Hubungan dengan Allah SWT semakin dekat. Dengan demikian doa dan segala sesuatu yang kita hajatkan, kemungkinan besar akan segera dikabulkan oleh-Nya
- Memperkookoh keimanan kita kepada Allah SWT
- Meredam gejolak hawa nafsu
- Menghindarkan diri dari gangguan setan
- Menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan
- Dijauhkan dari segala musibah

KATA DZIKIR berasal dari bahasa arab, dzikr yang berarti mengingat dan mengucap atau menyebut. Apabila dikaitkan dengan Islam, berarti mengingat dan menyebut Asma Allah SWT. Dzikir merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Firman Allah SWT. "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (Q.S.Al-Ahzab; 41-42). "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dengan tadhorru (merendahkan diri dan rasa takut) dan dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S. AL-'Aroof; 205). Abu Hurairah ra. memaparkan, Rasulullah saw. bersabda; "Tiada satu kaum pun yang duduk-duduk sambil berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat datang mengelilingi dan menaungi mereka." (H.R. Abu Sa'id Al-Khudri)
Dzikir menurut para ulama, dapat dibedakan dalam tiga macam;
- Dzikir dengan lisan (dzikr bil al-lisan), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dengan bersuara.
- Dzikir dalam hati (dzikr bi al-qolb), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dengan membatin, tanpa mengeluarkan suara. Sebagian ulama menafsirkan dzikir dalam hati ini, adalah bertafakkur merenungi kemahabenaran Allah SWT dengan penuh keyakinan dan perasaan tulus.
- Dzikir dengan panca indera atau anggota badan (dzikr bi al-jawarih), yakni menundukkan seluruh anggota badan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
- Dzikir kedua mata dengan menangis
- Dzikir kedua telingan dengan mendengarkan hal-hal yang baik
- Dzikir lidah dan mulut dengan mengucapkan pujian-pujian
- Dzikir hati dengan penuh rasa takut dan harap kepada Allah SWT
- Dzikir ruh dengan menyerah kepada Tuhan dan rela atas segala keputusan-Nya
- Dzikir badan dengan memenuhi berbagai kewajiban
- Dzikir kedua tangan dengan bersedekah.

Berdoa adalah memanjatkan permohonan dan harapan kepada Allah SWT. Berdoa tidak bisa dilakukan hanya dengan mengucapkan permohonan dan harapan di bibir saja. Berdoa dilakukan dengan memahamiapa yang diucapkan dan diiringi dengan kekusyukan serta keikhlasan hati. Rasulullah saw sangat menganjurkan berdoa dan memperingatkan orang yang enggan berdoa, antara lain:
1. Allah SWT Berfirman, " Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan doamu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina."
2. "Mintalah anugerah Allah SWT...Sesungguhnya Allah SWT. Senang diminta oleh Hamba-Nya."
3. "Doa adalah inti ibadah."
4. "Tidak ada yang paling mulia di sisi Allah SWT selain berdoa."
5. "DOa adalah senjata orang beriman, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi."
6. "Allah SWT murka kepada orang yang tidak berdoa kepada-Nya."
7. "Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah SWT.."
8. "Barang siapa menginginkan doanya dikabulkan Allah SWT ketika dia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa tatkala senang."
Rasulullah saw menjelaskan fadilah berdoa, di antaranya:
1. Allah SWT mencintai orang yang berdoa dan menjadikannya dekat dengan-Nya
2. Mendapatkan Ridha, Rahmat, dan Petunjuk Allah SWT
3. Mendapatkan ampunan Allah SWT
4. Mendapatkan keluasan Rezeki
5. Mendatangkan kebaikan serta menolakkan kemudaratan dan musibah
6. memudahkan kesulitan

a. Adab Berdoa
Setiap orang yang memohon kepada Allah SWT harus memperhatikan etika dan sopan santun dalam berdoa, antara lain:
1. memohon hanya kepada Allah SWT
2. Memohon pada keadaan yang mulia, seperti; saat bersujud kepada Allah SWT setelah shalat fardhu, waktu sahur, saat turun hujan dan ketika berpuasa
3. Memohon pada saat yang baik dan tepat, seperti; rentang waktu antara azan dan iqamah, sepertiga malam, hari jumat, bulan Ramadhan, hari arafah, awal dan akhir tahun
4. Menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangan
5. Meyakini permohonan akan terkabul
6. Merendahkan diri, khusyuk, dan takut akan murka Allah SWT
7. Melembutkan suara, karena berdoa ditujukan kepada Yang Maha Mendengar, serta tidak memaksakan diri untuk melagukan doa
8. Memulai permohonan atau permintaan dengan menyebut salah satu Asmaul Husna, kalimat tauhid, hamdalah, serta bersalawat atas Rasulullah saw; tidak langsung mengungkapkan maksud yang dituju
9. Tidak memohon keburukan bagi diri sendiri ataupun orang lain, memutuskan hubungan silahturahmi, dan yang diharamkan atau dimakruhkan agama, seperti; memohon kematian karena ditimpa musibah, memohon menimpakan azab dengan segera didunia dan lain-lain
10. Menyatakan permohonan dengan baik dan jelas
11. Mengulangi permohonan sampai tiga kali dan diutamakan
12. Bertobat kepada Allah SWT atas kesalahan yang pernah diperbuat
13. Menutup permohonan dengan bertahmid dan bersalawat atas nabi saw lalu mengusapkan kedua tangan ke wajah
b. Adab Berzikir
Etika dan sopan santun bagi orang yang berzikir kepada Allah SWT antara lain:
1. Merendahkan diri, tidak boleh takabur
2. Mengkhusyukan hati dan tidak lengah atau lalai
3. Meniatkan untuk menambah keimanan
4. Memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan
5. Tidak mengeraskan suara
Setiap orang yang memohon kepada Allah SWT harus memperhatikan etika dan sopan santun dalam berdoa, antara lain:
1. memohon hanya kepada Allah SWT
2. Memohon pada keadaan yang mulia, seperti; saat bersujud kepada Allah SWT setelah shalat fardhu, waktu sahur, saat turun hujan dan ketika berpuasa
3. Memohon pada saat yang baik dan tepat, seperti; rentang waktu antara azan dan iqamah, sepertiga malam, hari jumat, bulan Ramadhan, hari arafah, awal dan akhir tahun
4. Menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangan
5. Meyakini permohonan akan terkabul
6. Merendahkan diri, khusyuk, dan takut akan murka Allah SWT
7. Melembutkan suara, karena berdoa ditujukan kepada Yang Maha Mendengar, serta tidak memaksakan diri untuk melagukan doa
8. Memulai permohonan atau permintaan dengan menyebut salah satu Asmaul Husna, kalimat tauhid, hamdalah, serta bersalawat atas Rasulullah saw; tidak langsung mengungkapkan maksud yang dituju
9. Tidak memohon keburukan bagi diri sendiri ataupun orang lain, memutuskan hubungan silahturahmi, dan yang diharamkan atau dimakruhkan agama, seperti; memohon kematian karena ditimpa musibah, memohon menimpakan azab dengan segera didunia dan lain-lain
10. Menyatakan permohonan dengan baik dan jelas
11. Mengulangi permohonan sampai tiga kali dan diutamakan
12. Bertobat kepada Allah SWT atas kesalahan yang pernah diperbuat
13. Menutup permohonan dengan bertahmid dan bersalawat atas nabi saw lalu mengusapkan kedua tangan ke wajah
b. Adab Berzikir
Etika dan sopan santun bagi orang yang berzikir kepada Allah SWT antara lain:
1. Merendahkan diri, tidak boleh takabur
2. Mengkhusyukan hati dan tidak lengah atau lalai
3. Meniatkan untuk menambah keimanan
4. Memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan
5. Tidak mengeraskan suara

Ada waktu-waktu tertentu yang mendapat prioritas doa diterima oleh allah SWT:
1. Waktu antara adzan dan iqomat. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tidak akan ditolak, suatu doa yang dipanjatkan antara waktu adzan dan icjomah." (HR. Tirmidzi).
2. Waktu sepertiga malam yang terakhir dan sesudah sholat wajib. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tuhan turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Dan berfirmanlah Dia: "Siapa yang berdoa kepada- Ku, maka Aku perkenankan doanya. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni dia." (HR. Bukhori dan Muslim). Abi Umamah ra. mengutarakan, seseorang bertanya kepada Nabi, ’’Ya Rosulullah, kapankah doa itu paling didengar oleh Allah?’’ Muhammad Rosulullah saw bersabda: ’’Pada akhir malam, dan sesudah sholat wajib".(HR. Tirmidzi)
3. Sepanjang hari Jum’at.
4. Ketika khotam (tamat) membaca Al-Qur’an 30 juz.
5. Ketika sujud. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Saat paling dekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sedang bersujud, karena itu perbanyaklah doa pada saat itu". (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasai dari Abu Huroiroh r a)
6. Kala melakukan thowaf (mengelilingi ka’bah).
7. Saat turun hujan atau menghadapi musuh di medan perang. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Berdoalah pada waktu doa- doa itu diperkenankan Tuhan, yakni pada saat berjumpa dengan pasukan musuh, ketika akan melaksanakan sholat, dan ketika turun hujan." (HR.. Asy-Syafi’I).
Tempat-tempat tertentu yang mendapat priorotas dari Allah SWT, diterimanya doa adalah:
- Di depan dan di dalam Ka’bah.
- Di Masjid Muhammad Rosulullah saw.
- Di belakang makam Nabi Ibrohim as.
- Di atas bukit Shofa dan Marwah.di Arofah, di Mudzalifah, di Mina, dan di sisi jamarot yang tiga.
- Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti Masjid dan Musholla.

MENGINGAT doa adalah ibadah sebagaimana sabda Muhammad Rosulullah saw. di atas, maka ada beberapa etika yang harus kita terapkan dalam berdoa. Berikut penulis ramukan etika dalam berdoa dari beberapa ayat dalam Al-Quran, serta petuah Imam Ghozali yang tertuang dalam Ihya Ulumuddin, petuah Al-Qusyairi, dan petuah Imam Nawawi.
- Bertobat sebelum berdoa, lalu menghadapkan diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan khusyu.
- Disunnatkan menghadap kiblat.
- Seyogyanya doa-doa itu diawali dan diakhiri dengan puji-pujian kepada Allah SWT.
- Mengakui keagungan Allah SWT dengan segala kerendahan diri dan hati (QS. 6/Al-An'am: 42).
- Mengucapkan doa dengan suara yang sedang (tidak keras dan juga tidak berbisik) dan lembut. "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. 7/Al-Arofi 55)
- Memanjatkannya dengan perasaan takut (tidak akan diterima) dan berharap (untuk dikabulkan). "Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." (QS. 7/Al-A'rof: 56).
- Tidak perlu berpantun, dan/atau dengan pengucapan berirama. Cukuplah dengan kata-kata yang baik yang mencerminkan kerendahan kedudukan kita sebagai hamba di hadapan Allah SWT, serta sederhana dan tepat mengenai sesuatu yang kita inginkan. Alangkah lebih baik jika kita memanjatkan bacaan- bacaan doa yang telah dicontohkan Muhammad Rosulullah saw. yang kandungan maknanya sesuai dengan kehendak kita juga,
- Mengulang doa sampai dua atau tiga kali, yakni doa tentang sesuatu yang kita prioritaskan memohonkannya kepada Allah SWT.
- Ditutup dengan bacaan sholawat, kemudian dilanjutkan dengan bacaan
(Maha Suci Tuhan, Tw/ian yang memiliki kebesaran/kesucian dari sifat rendah yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan itu atas segala rosul yang telah diutus Tuhan. Dan puji-pujian hanyalah bagi Allah, Tuhan sekalian alam).

"Berodalah kamu kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan doamu." (QS. Al Mukmin; 60).
Pengertian doa disini adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT. Akan tetapi bukan berarti hanya orang-orang yang sedang ditimpa musibah saja yang layak memanjatkan doa. Dalam keadaan segar-bugar dan tidak kekurangan suatu apa pun, sebagai manusia, kiranya kita layak berdoa. Setidaknya untuk memohon perkenaan Allah SWT untuk mengampuni segala dosa-dosa kita, baik yang disengaja maupun tidak. Juga berdoa kepada Allah SWT meminta tetap diberi kekuatan iman dan kesehatan agar dapat melaksanakan segala perintah-Nya. Selain itu kita perlu memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan dan hawa nafsu kita sendiri supaya dapat menjauhi segala larangan-Nya. Dengan kata lain, dalam keadaan bagaimanapun kita perlu berdoa.
Doa merupakan unsur yang paling esensial dalam ibadah. Ditegaskan oleh Rasulullah saw. Nu'man bin basyir ra. menegaskan, Nabi saw bersabda, "Doa adalah ibadah." (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasai, dan Ibnu Majah). "Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang." (HR AL-Hakim)
Berdoa merupakan suatu ibadah, bahkan menjadi otaknya ibadah. Kenapa doa menjadi otaknya ibadah? Karena, dengan berdoa jelas sekali memperlihatkan penghambaan manusia kepada Allah. Dengan berdoa kepada Allah, maka terwujudlah: Allah, tempat meminta, tempat memohon, sedang si hamba adalah makhluk yang hina dan selalu dalam kekurangan.
Karena suatu ibadah, maka berdoa sangatlah dianjurkan (diperintahkan) oleh agama, walaupun doa tidak memerlukan suatu syarat dan rukun yang ketat, seperti halnya ibadah shalat, zakat, dan puasa.
Banyak firman Allah SWT. dan hadits Rasulullah SAW. yang menerengkan tentang doa dan merintahkan orang-orang beriman agar berdoa diantaranya adalah sebagai berikut:
Al-Quran
Surat Al-A'râf ayat 55-56
Artinya: "Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan cara halus, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah la baik; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan loba (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (Iman kepada Allah dan berbuat kebajikan)."
Surah Al-Baqarah ayat 186
Artinya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat (kepada mereka). Aku perkenankan doa orang-orang yang mendoa apabila ia memohon (mendoa) kepada-Ku. Sebab itu, hendaklah mereka memenuhi (seruan)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk."
Surah Al-Mu'min, ayat 60
Artinya: "Dan berfirman Tuhanmu "Memohonlah (mendoalah) kepada-Ku, Aku pasti perkenankan permohonan (doa) mu itu."
Surah Al-A'râf, ayat 180:
Artinya: "Dan Allah mempunyai nama-nama yang sangat indah (Al-Asmâ'u al-Husnâ), maka memohonlah kamu kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama itu."
Surah Al-Isrâ', ayat 110
Artinya: "Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdoalah (pujilah) akan Allah atau berdoalah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang)."
Surah Yûnûs, ayat 10
Artinya: "Doa (percakapan) mereka di dalamnya (surga), adalah Allâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan)."
Al-Hadits
Diriwayatkan dari Abû Dâud dan Al-Turmudzî
Artinya: "Doa itu adalah lbadah.
Diriwayatkan dari Al-Turmudzî yang artinya sebagai berikut:
"Barangsiapa dibukakan pintu doa untuknya, berarti telah dibukakan pula untuknya segala pintu rahmat. Dan tidak dimohonkan kepaia Allah, yang lebih disukai-Nya selain daripada dimohonkan 'afiyah. Doa itu memberi manfaat terhadap yang telah diturunkan dan yang belum diturunkan. Dan tak ada yang dapat menangkis ketetapan Tuhan, kecuali Doa. Sebab itu berdoa kamu sekalian." (HR. Al-Turmudzî).
Diriwayatkan dari Al-Turmudzî
Artinya: "Tiap Muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah daripadanya sesuatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang." (HR Al-Thurmudzî).
Ada beberapa keutamaan yang akan kita peroleh dalam berdoa;
Pengertian doa disini adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT. Akan tetapi bukan berarti hanya orang-orang yang sedang ditimpa musibah saja yang layak memanjatkan doa. Dalam keadaan segar-bugar dan tidak kekurangan suatu apa pun, sebagai manusia, kiranya kita layak berdoa. Setidaknya untuk memohon perkenaan Allah SWT untuk mengampuni segala dosa-dosa kita, baik yang disengaja maupun tidak. Juga berdoa kepada Allah SWT meminta tetap diberi kekuatan iman dan kesehatan agar dapat melaksanakan segala perintah-Nya. Selain itu kita perlu memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan dan hawa nafsu kita sendiri supaya dapat menjauhi segala larangan-Nya. Dengan kata lain, dalam keadaan bagaimanapun kita perlu berdoa.
Doa merupakan unsur yang paling esensial dalam ibadah. Ditegaskan oleh Rasulullah saw. Nu'man bin basyir ra. menegaskan, Nabi saw bersabda, "Doa adalah ibadah." (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasai, dan Ibnu Majah). "Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang." (HR AL-Hakim)
Berdoa merupakan suatu ibadah, bahkan menjadi otaknya ibadah. Kenapa doa menjadi otaknya ibadah? Karena, dengan berdoa jelas sekali memperlihatkan penghambaan manusia kepada Allah. Dengan berdoa kepada Allah, maka terwujudlah: Allah, tempat meminta, tempat memohon, sedang si hamba adalah makhluk yang hina dan selalu dalam kekurangan.
Karena suatu ibadah, maka berdoa sangatlah dianjurkan (diperintahkan) oleh agama, walaupun doa tidak memerlukan suatu syarat dan rukun yang ketat, seperti halnya ibadah shalat, zakat, dan puasa.
Banyak firman Allah SWT. dan hadits Rasulullah SAW. yang menerengkan tentang doa dan merintahkan orang-orang beriman agar berdoa diantaranya adalah sebagai berikut:
Al-Quran
Surat Al-A'râf ayat 55-56

Artinya: "Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan cara halus, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah la baik; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan loba (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (Iman kepada Allah dan berbuat kebajikan)."
Surah Al-Baqarah ayat 186

Artinya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat (kepada mereka). Aku perkenankan doa orang-orang yang mendoa apabila ia memohon (mendoa) kepada-Ku. Sebab itu, hendaklah mereka memenuhi (seruan)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk."
Surah Al-Mu'min, ayat 60
Artinya: "Dan berfirman Tuhanmu "Memohonlah (mendoalah) kepada-Ku, Aku pasti perkenankan permohonan (doa) mu itu."
Surah Al-A'râf, ayat 180:
Artinya: "Dan Allah mempunyai nama-nama yang sangat indah (Al-Asmâ'u al-Husnâ), maka memohonlah kamu kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama itu."
Surah Al-Isrâ', ayat 110
Artinya: "Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdoalah (pujilah) akan Allah atau berdoalah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang)."
Surah Yûnûs, ayat 10
Artinya: "Doa (percakapan) mereka di dalamnya (surga), adalah Allâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan)."
Al-Hadits
Diriwayatkan dari Abû Dâud dan Al-Turmudzî

Artinya: "Doa itu adalah lbadah.
Diriwayatkan dari Al-Turmudzî yang artinya sebagai berikut:
"Barangsiapa dibukakan pintu doa untuknya, berarti telah dibukakan pula untuknya segala pintu rahmat. Dan tidak dimohonkan kepaia Allah, yang lebih disukai-Nya selain daripada dimohonkan 'afiyah. Doa itu memberi manfaat terhadap yang telah diturunkan dan yang belum diturunkan. Dan tak ada yang dapat menangkis ketetapan Tuhan, kecuali Doa. Sebab itu berdoa kamu sekalian." (HR. Al-Turmudzî).
Diriwayatkan dari Al-Turmudzî

Artinya: "Tiap Muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah daripadanya sesuatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang." (HR Al-Thurmudzî).
Ada beberapa keutamaan yang akan kita peroleh dalam berdoa;
- Menunaikan kewajiban taat dan menjauhi maksiat
- Memperoleh naungan rahmat Allah SWT
- Meringankan beban penderitaan
- Menolak bencana, dan menolak tipu daya musuh.
- Menghilangkan kegundahan, serta memudahkan kesukaran dan terpenuhi hajat. Sabda Rasulullah saw."Tuhanlah yang melepaskan kamu dari bencana-bencana yang disebabkan oleh musuh-musuhmu, dan Dia pula yang mencurahkan rejeki kepada kamu sekalian." (HR. Bukhari dan Muslim).
Gallery
Labels
-
Penulis artikel : Nathan Gusti Ryan NOTES : Artikel ini bukan memandu anda untuk melakukan Unlock Modem. Tapi untuk melak...
-
Editing foto merupakan pekerjaan yang mengasyikan, terlebih jika foto yang kita edit menjadi lebih unik dan terkesan kreatif. Dengan m...
-
Dalam pergaulan sehari-hari di manapun, sering kita dengar atau kita jumpai istilah "Sunnah Rasul" pada malam Jum'at. ...
-
Menjadi suami dan bapak ideal dalam rumah tangga? Tentu ini dambaan setiap lelaki, khususnya yang beriman kepada Allah Ta’ala dan har...
-
Saya Terima Nikahnya si dia binti ayah si dia dengan Mas Kawinnya..... DiBayaaaar Kontaaan. Singkat, padat dan jelas.. Tapi t...




